Unsyiah di Mata Alumnus UIN Ar-Raniry

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di pedalaman Aceh Utara, saya mulai mengetahui nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dari seorang teman. Namun saya tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana wujudnya, karena keterbatasan media informasi saat itu. Berbeda dengan hari ini yang langsung bisa kita searching lewat mesin Google.

Lanjutkan membaca “Unsyiah di Mata Alumnus UIN Ar-Raniry”

Ketika Takbir menjadi Simbol Ketakutan dalam Film The Final Score

Faisal Khan, imigran asal Pakistan yang bertugas di lapangan bola kaki itu kehabisan akal meyakinkan para penonton agar berpindah ke tempat duduk yang lain. Pentonton tidak tahu di sudut tribun tempat mereka duduk telah dipasang bom oleh teroris mantan gerakan revolusi Sakovya, Rusia. Lanjutkan membaca “Ketika Takbir menjadi Simbol Ketakutan dalam Film The Final Score”

Urgensi Pembangunan Moral Umat

Beberapa hari yang lalu saya mendapat tugas dari kantor untuk menghadiri sebuah Forum Discussion Group (FGD) di Hotel Hermes Palace. Kegiatan yang berlangsung setengah hari itu dibuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh dengan tema: Aceh dalam Angka.

Dari tema saja, apalagi yang buat acara BPS, sudah bisa ditebak bahwa acara tersebut berbicara soal angka-angka, termasuk angka kemiskinan dan tingkat pembangunan Aceh. Setiap kali menghadirikan acara yang begini rupa, selalu membahas persoalan bagaimana pengentasan kemiskinan.

Namun, selalu saja yang muncul adalah wacana-wacana. Ukuran kemajuan sebuah daerah selalu diukur minimnya angka kemiskinan dan sibuk mencari solusi melalui program-program pemberdayaan agar masyarakat sejahtera.

Pada kesempatan yang lain, tersebutlah bahwa Baitul Mal salah satu lembaga yang mampu mengentas kemiskinan di Aceh. Lembaga yang mengurus harta agama ini dianggap mampu menekan angka orang susah, itu benar jika para muzakki sadar mengeluarkan hartanya ketika mencapai nisab.

Namun, yang sering dilupakan bahwa selain membangun infrastruktur, ada satu yang lebih penting yaitu pembangunan mental dan moralitas masyarakat. Jika dilihat dari urgensitas kedua pembangunan ini, maka pembangunan moral sejatinya dilakukan terlebih dahulu sebelum membangun prasarana.

Kita sering terjebak kemajuan sebuah daerah itu dilihat dari pada apa yang dapat dilihat dengan kasat mata, tetapi mengabaikan sesuatu yang tersembunyi dibalik perilaku masyarakat yang menghuni daerah tersebut.

Ketika kita datang ke sebuah daerah tampak gedung menjulang tinggi, jalan mulus, alam bersih, sungai-sungai jernih, dan tidak kita temukan sebiji putung rokok pun, kita langsung memberi nilai bahwa daerah tersebut mau. Padahal semua diawali oleh moral masyarakat di sana yang sebelumnya sudah dibangun, jika tidak, setelah pemerintah membersihkan sungai, ada masyarakat yang buang sampah ke sana.

Sebagai contoh penulis kasih gambaran bahwa pembangunan moral dulu sebelum membangun fisik. Sebutkan saja sebuah desa yang jauh dari perkotaan. Di desa tersebut jalannya rusak parah, sehingga susah bagi warga untuk beraktivitas. Kemudian, masyarakat mengadu ke pihak kabupaten agar dianggarkan dana untuk pembangunan jalan gampong mereka.

Dengan segala pertimbangan, pihak kabupaten pun menerima usulan mereka. Beberapa bulan kemudian, jalan tersebut benar-benar dibangun, bahkan dari sebelumnya tak bisa dilewati, sudah disulap menjadi jalan aspal yang bisa ditancapkan gas 100 km/jam.

Lalu apa yang terjadi, karena jalan sudah bagus mulailah para pemuda tanggung di gampong tersebut menjadi sebagai areal balapan liar. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak terganggu saat melintasi jalan tersebut.

Akhirnya, untuk mengusir para pemuda-pemuda nakal tadi, mereka buat polisi tidur di jalan tersebut. Alhasil, kalau dikaji, tujuan pembangunan jalan tadi agar nyaman saat melintasi, tetapi ketika di jalan ada polisi tidur tentu membuat tidak nyaman. Percuma jalannya bagus, tapi banyak gundukan-gundukan di tengah jalan.

Nah, itulah tamsilan jika yang didahulukan adalah pembangunan fisik bukan moral. Jika moral sudah baik, sesederhana apa pun fasilitas yang dimiliki akan dijaga dan dirawat bersama. Bahkan, mereka akan saling bergotong royong untuk membuat fasilitas tersebut agar lebih baik lagi.

Di sinilah peran seorang dai dalam menyadarkan umat. Kita semua adalah dai, jadi kita semua memiliki tanggung jawab bersama dalam mendidik umat dan saling menasihati. Untuk menasihati pun memiliki etika-etika tersendiri yaitu dengan cara-cara hikmah.

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl [16]: 125).

bahkan saat kita berbicara tentang moral, itu sama sekali tidak lepas dari pada bicara akhlak. Dan, Nabi Muhammad Saw diutuskan Allah ke muka bumi ini tak lain yaitu untuk memperbaiki akhlak umat. Nabi Muhammad Saw hadir di tengah-tengah moral orang-orang jahiliyah sudah melampaui batas.

Oleh karena itu, jika ingin maju sebuah bangsa dan masyarakatnya sejahtera, maka utamakan pendidikan moral, terutama dalam keluarga masing-masing. Sebab, sebelum perangai seorang manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, maka ia harus dibentuk dari di rumah terlebih dahulu oleh orang tuanya. Genarasi muda adalah aset serta cerminan masa depan bangsa di kemudian hari. []

“Meugeutang”, Postingan Pasca 19 Hari Absen di Steemit

Foto: dokumen pribadi
Buku Dari Timur 2, kumpulan tulisan Makassar Internasional Writer Festival

Sudah 19 hari tak mengisi ruang ini. Seketika rindu ingin mencoret-coret lagi di sini. Absen di Steemit bukan karena harga SBD yang seharga nasi bungkus, melainkan kesibukan menjalani tugas umat ke beberapa kabupaten/kota. Lanjutkan membaca ““Meugeutang”, Postingan Pasca 19 Hari Absen di Steemit”

Yang Benar-benar Hebat dengan Sok Hebat

Foto ini hanya ilustrasi ketika saya berkunjung ke sebuah rumah warga yang memiliki usaha rumah tangga (home industri). Mereka salah satu mustahik binaan Baitul Mal Aceh | Foto dokumen pribadi

Dalam hidup ini kita selalu bertemu dengan dua tipe manusia. Tipe pertama orang hebat dan memang benar-benar hebat, sedangkan satunya lagi hanya sok hebat. Lanjutkan membaca “Yang Benar-benar Hebat dengan Sok Hebat”

Orang-orang yang Risih Saat Dikritik

Saat saya ke sebuah toko buku, saya cemburu melihat nama-nama penulis besar. Saya ingin suatu hari nanti bisa seperti mereka. | foto dokumen pribadi

Selama ini saya sering mengatakan kepada teman-teman yang bertanya bagai menulis dan apa yang mereka tulis. Pertanyaan itu dilontarkan baik saat bertemu di warung kopi, maupun ketika saya mengisi sebuah pelatihan menulis atau jurnalistik. Lanjutkan membaca “Orang-orang yang Risih Saat Dikritik”

Strategi Komunikasi Dinkes dalam Menyosialisasikan Cara Hidup Sehat

Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama manusia melalui pertukaran informasi untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Menurut Harold Lasswell ada lima elemen dasar dalam berkomunikasi yaitu “Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect”. Kelima elemen dasar tersebut adalah Who(sumber atau komunikator), Says What (pesan), in Which Channel (Saluran), to Whom (Penerima), with What Effect (Efek atau dampak). Lanjutkan membaca “Strategi Komunikasi Dinkes dalam Menyosialisasikan Cara Hidup Sehat”