Unsyiah di Mata Alumnus UIN Ar-Raniry

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di pedalaman Aceh Utara, saya mulai mengetahui nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dari seorang teman. Namun saya tidak pernah tahu seperti apa dan bagaimana wujudnya, karena keterbatasan media informasi saat itu. Berbeda dengan hari ini yang langsung bisa kita searching lewat mesin Google.

Jangankan internet, koran saja masih agak sulit untuk dapat diakses saat itu, di sekolah kami hanya di ruang kepala sekolah saja yang ada koran. Sehingga, Unsyiah hanya bisa saya imajinasikan sebagai universitas besar tertua yang gedungnya tinggi-tinggi dan berlalu lalang orang-orang hebat di sana berdasarkan informasi dari teman saya.

Selaku anak kampung yang juga memiliki keterbatasan ekonomi orang tua, untuk bisa melanjut pendidikan di sana rasanya seperti pungguk merindukan bulan, i think impossible. Bagi saya Unsyiah terlalu hebat dan tak sanggup orang sekelas ekonomi rendahan seperti saya bisa kuliah di sana.

Tahun 2007, saya lulus SMA. Di tahun itu saya tidak langsung melanjutkan kuliah. Saya bersama seorang teman seangkatan memilih bekerja bangunan di Kota Banda Aceh. Selama tiga bulan tinggal di ibu kota provinsi ini, saya berteman dengan beberapa mahasiswa yang mereka kuliah di Unsyiah.

Yang menariknya, mereka juga bukan dari keluarga yang berada seperti saya. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dan bisa kuliah? Ternyata mereka tinggal di masjid dan surau-surau.

Di masjid dan surau umumnya tugas mereka sebagai khadam, mengumandangkan azan dan membersihkan masjid. Otomatis biaya untuk tempat tinggal dan pengeluaran untuk air dan listrik sudah digratiskan. Bahkan mereka diberikan insentif setiap bulan. Mereka juga mengajar anak-anak di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di masjid tersebut dan privat ke rumah-rumah warga.

Dari pengalaman mereka, saya menjadi terinspirasi, jika mereka bisa kuliah di Banda Aceh, mengapa saya tidak, asal tidak ada sifat gengsi dan malas. Sejak saat itu saya mulai mengumpulkan uang untuk bisa mendaftar dan membayar SPP smester pertama.

Foto: dokumen pribadi Hayatullah Zuboidi

Anggapan saya sebelum bahwa anak miskin tidak bisa kuliah di universitas besar itu sirna. Apalagi kata kawan tadi di Unsyiah juga menyediakan banyak jenis beasiswa, mulai dari beasiswa kurang mampu hingga prestasi.

Nah, begitu ajaran baru tiba, saya memberanikan diri untuk mendaftar di dua kampus, Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry (UIN Ar-Raniry sekarang). Saat itu belum terpikirkan di mana tinggal dan dari mana mendapatkan SPP.

Setelah ikut tes pada jurusan FKIP Bahasa Inggris, ternyata Allah belum mengizinkan saya kuliah di Unsyiah, saya lulus di IAIN Ar-Raniry. Itu pun bukan pada pilihan pertama, tapi yang kedua yaitu jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Saya pun kuliah di sana hingga selesai.

Meskipun saya kuliah di IAIN Ar-Raniry, saya kerap mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Unsyiah, baik itu seminar maupun pelatihan-pelatihan. Saya banyak mengenal tokoh dan aktivis di unversitas yang sudah berusia 57 tahun tersebut.

Unsyiah telah memberikan saya banyak ilmu dan pengalaman melalui dosen mereka yang saya temui di warung kopi. Saat saya bekerja di sebuah media online di Banda Aceh, narasumber yang sering saya wawancarai dari Unsyiah, baik itu pakar ekonomi, pendidikan, hukum, dan beberapa pakar lainnya.

Foto: dokumen pribadi Hayatullah Zuboidi

Kampus jantong hate rakyat Aceh tersebut telah melahirkan ratusan bahkan ribuan sarjana dan alumninya tersebar di mana-mana. 12 fakultas yang mereka miliki terbilang cukup untuk mendidik Sumber Daya Manusia (SDM) dalam berkontribusi untuk pembangunan Aceh, sehingga Aceh tidak kekurangan SDM dari segala bidang.

Kontribusi untuk Pendidikan Moral

Sekilas Unsyiah memang universitas yang mengajari ilmu yang bersifat umum seperti teknik, kedokteran, bisnis, dan bidang lainnya. Namun menurut pribadi penulis, Unsyiah juga punya tanggung jawab membentuk moral mahasiswa agar lebih berperadaban. Ilmu tanpa dibarengi akhlak itu sia-sia.

Di Indonesia, khususnya Aceh ada satu persoalan yang belum berhasil kita carikan solusi, baik itu kampus maupun lembaga agama seperti pesantren atau dayah-dayah. Pendidikan moral kita masih sangat kurang.

Hal itu bisa dilihat dalam suasana keseharian kita baik saat berada di lampu stop lalu lintas, antrean, dan pola hidup bersih. Di lampu stop lalu lintas masyarakat kita masih minim kesadaran untuk menghargai sesama pengguna jalan. Saat ada antrean masyarakat kita tak begitu sabar menunggu giliran, begitu juga soal kebersihan masih membuang sampah sembarangan.

Foto: dokumen pribadi Hayatullah Zuboidi

Kita tak perlu jauh untuk mengambil contoh bagaimana ketidakpatuhan terhadap lalu lintas generasi muda hari ini. Di lampu stop simpang Geulanggang Unsyiah misalnya, coba kita perhatikan siapa saja yang menerobos lampu merah setiap waktu. Tak lain mereka yang berstatus mahasiswa-mahasiswi, baik itu mahasiswa Unsyiah maupun UIN Ar-Raniry.

Saya punya pengalaman sekali, di jalur yang banyak dilintasi mahasiwa ada anak SD mau menyebrang jalan. Kemudian saya berhenti membiarkan anak SD itu menyeberang, namun ia tak berani menyeberang karena abang-abang dan kakak-kakak mahasiswa tak berhenti. Akhir saya yang tampak seperti orang bodoh berhenti di tengah jalan sendirian. Begitulah potret mahasiwa hari ini.

Oleh sebab itu, Unsyiah sejatinya juga mengambil peran dalam hal ini. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, pendidikan moral menjadi hal yang sangat penting. Nantinya di Unsyiah akan lahir dokter yang santun, insinyur berakhlakul karimah, pakar hukum yang adil, ekonom yang baik budi, dan guru-guru yang bijaksana.

Semoga pada momentum ulang tahun ke-57 ini, Unsyiah semakin menjadi kampus yang terus memberi kontribusi yang baik untuk dunia pendidikan Aceh, pembangunan moral umat, dan pembangunan Aceh jangka panjang. Jika ingin melihat Aceh lebih baik ke depan, mari kita perbaiki moral generasi muda hari ini. Semoga![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *