Urgensi Pembangunan Moral Umat

Beberapa hari yang lalu saya mendapat tugas dari kantor untuk menghadiri sebuah Forum Discussion Group (FGD) di Hotel Hermes Palace. Kegiatan yang berlangsung setengah hari itu dibuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh dengan tema: Aceh dalam Angka.

Dari tema saja, apalagi yang buat acara BPS, sudah bisa ditebak bahwa acara tersebut berbicara soal angka-angka, termasuk angka kemiskinan dan tingkat pembangunan Aceh. Setiap kali menghadirikan acara yang begini rupa, selalu membahas persoalan bagaimana pengentasan kemiskinan.

Namun, selalu saja yang muncul adalah wacana-wacana. Ukuran kemajuan sebuah daerah selalu diukur minimnya angka kemiskinan dan sibuk mencari solusi melalui program-program pemberdayaan agar masyarakat sejahtera.

Pada kesempatan yang lain, tersebutlah bahwa Baitul Mal salah satu lembaga yang mampu mengentas kemiskinan di Aceh. Lembaga yang mengurus harta agama ini dianggap mampu menekan angka orang susah, itu benar jika para muzakki sadar mengeluarkan hartanya ketika mencapai nisab.

Namun, yang sering dilupakan bahwa selain membangun infrastruktur, ada satu yang lebih penting yaitu pembangunan mental dan moralitas masyarakat. Jika dilihat dari urgensitas kedua pembangunan ini, maka pembangunan moral sejatinya dilakukan terlebih dahulu sebelum membangun prasarana.

Kita sering terjebak kemajuan sebuah daerah itu dilihat dari pada apa yang dapat dilihat dengan kasat mata, tetapi mengabaikan sesuatu yang tersembunyi dibalik perilaku masyarakat yang menghuni daerah tersebut.

Ketika kita datang ke sebuah daerah tampak gedung menjulang tinggi, jalan mulus, alam bersih, sungai-sungai jernih, dan tidak kita temukan sebiji putung rokok pun, kita langsung memberi nilai bahwa daerah tersebut mau. Padahal semua diawali oleh moral masyarakat di sana yang sebelumnya sudah dibangun, jika tidak, setelah pemerintah membersihkan sungai, ada masyarakat yang buang sampah ke sana.

Sebagai contoh penulis kasih gambaran bahwa pembangunan moral dulu sebelum membangun fisik. Sebutkan saja sebuah desa yang jauh dari perkotaan. Di desa tersebut jalannya rusak parah, sehingga susah bagi warga untuk beraktivitas. Kemudian, masyarakat mengadu ke pihak kabupaten agar dianggarkan dana untuk pembangunan jalan gampong mereka.

Dengan segala pertimbangan, pihak kabupaten pun menerima usulan mereka. Beberapa bulan kemudian, jalan tersebut benar-benar dibangun, bahkan dari sebelumnya tak bisa dilewati, sudah disulap menjadi jalan aspal yang bisa ditancapkan gas 100 km/jam.

Lalu apa yang terjadi, karena jalan sudah bagus mulailah para pemuda tanggung di gampong tersebut menjadi sebagai areal balapan liar. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak terganggu saat melintasi jalan tersebut.

Akhirnya, untuk mengusir para pemuda-pemuda nakal tadi, mereka buat polisi tidur di jalan tersebut. Alhasil, kalau dikaji, tujuan pembangunan jalan tadi agar nyaman saat melintasi, tetapi ketika di jalan ada polisi tidur tentu membuat tidak nyaman. Percuma jalannya bagus, tapi banyak gundukan-gundukan di tengah jalan.

Nah, itulah tamsilan jika yang didahulukan adalah pembangunan fisik bukan moral. Jika moral sudah baik, sesederhana apa pun fasilitas yang dimiliki akan dijaga dan dirawat bersama. Bahkan, mereka akan saling bergotong royong untuk membuat fasilitas tersebut agar lebih baik lagi.

Di sinilah peran seorang dai dalam menyadarkan umat. Kita semua adalah dai, jadi kita semua memiliki tanggung jawab bersama dalam mendidik umat dan saling menasihati. Untuk menasihati pun memiliki etika-etika tersendiri yaitu dengan cara-cara hikmah.

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl [16]: 125).

bahkan saat kita berbicara tentang moral, itu sama sekali tidak lepas dari pada bicara akhlak. Dan, Nabi Muhammad Saw diutuskan Allah ke muka bumi ini tak lain yaitu untuk memperbaiki akhlak umat. Nabi Muhammad Saw hadir di tengah-tengah moral orang-orang jahiliyah sudah melampaui batas.

Oleh karena itu, jika ingin maju sebuah bangsa dan masyarakatnya sejahtera, maka utamakan pendidikan moral, terutama dalam keluarga masing-masing. Sebab, sebelum perangai seorang manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, maka ia harus dibentuk dari di rumah terlebih dahulu oleh orang tuanya. Genarasi muda adalah aset serta cerminan masa depan bangsa di kemudian hari. []