Orang-orang yang Risih Saat Dikritik

Saat saya ke sebuah toko buku, saya cemburu melihat nama-nama penulis besar. Saya ingin suatu hari nanti bisa seperti mereka. | foto dokumen pribadi

Selama ini saya sering mengatakan kepada teman-teman yang bertanya bagai menulis dan apa yang mereka tulis. Pertanyaan itu dilontarkan baik saat bertemu di warung kopi, maupun ketika saya mengisi sebuah pelatihan menulis atau jurnalistik.

Saya mengakui bahwa saya pribadi belum pantas disebut penulis dibandingkan mereka yang karya bukunya berjejer di rak-rak toko buku . Tapi bagaimana pun, saya tetap menjawab pertanyaan mereka.

“Untuk permulaan, tuliskan saja apa yang ada dalam pikiran Anda, jangan berpikir apa yang akan Anda tulis, itu lebih mudah bagi pemula,” saya bilang begitu.

Tetapi malam ini saya sendiri tidak tidak bisa mempraktikkan apa yang pernah saya sarankan kepada orang lain tersebut. Tidak bisa menulis apa yang ada dalam pikiran. Entah pikiran saya yang sedang kacau atau terlalu banyak yang saya pikirkan sehingga tak fokus harus menulis apa.

Lihatlah, air yang teduh itu bagaikan cermin bagi pohon-pohon itu. Begitu juga hidup kita, semua yang ada di sekeliling kita, kita jadikan cemin. Jangan pula buruk rupa cermin dibelah. | Footo dokumen pribadi.

30 menit lebih saya duduk di depan netbook, tak satu paragraf pun saya ketik. Kemudian saya tinggalkan, saya pergi ke kios yang terletak di pojok kompleks kami, tempat kami sering bersilaturahmi dan juga tempat kami menonton bola Siaran Piala Dunia 2018.

Niat hati duduk sebentar di sana supaya dapat ide untuk membuat postingan malam ini. Tetapi saya tak berhasil, hingga saya kembali ke rumah, masih belum ada ide untuk menulis. Saya pikir tidak apa-apa, jangan dipaksakan, jika memang tak ada ide jangan diposting.

Mending saya istirahat saja, agar besok bisa bangun lebih cepat, apalagi Senin, harus datang lebih awal karena ada apel setiap Senin pagi. Rupanya saya lupa bahwa saya masih dalam status tugas lapangan hingga Senin, sehingga saya tak perlu masuk kantor lebih cepat.

Ilustrasi

Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB. Aku merenung sendiri apa yang telah saya lakukan dalam beberapa minggu terakhir. Saya teringat, kemarin saya duduk dengan seorang teman di sebuah warung kopi. Saya sangat terkejut mendengar pengakuan dia bawah selama ini komentar-komentar saya dalam grup WhatsApp menyakitinya.

Ia mengaku blak-blakan bahwa apa yang saya sampaikan tentang dia membuat dia merasa risih. Yang lebih parahnya lagi, gara-gara komentar saya, banyak teman-temannya yang sebelumnya dekat menjadi jauh.

“Yakin kamu gara-gara saya teman-teman kamu menjauh dari kamu?” tanya saya.

“Buktinya si Anu (nama samaran) sebelumnya sering minta tolong sama saya, sekarang nggak pernah lagi,” jawabnya.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuannya. Ia masih terus mengkomplain sikap  saya selama ini terhadapnya. Ia merasa kritikan saya terhadapnya terlalu keras. Sampai ia bilang kalau kritikan saya itu mempengaruhi orang lain untuk tidak menyukainya.

“Apa pasal?” saya mendesak.

“Boleh Abang mengkritik saya, tapi jangan di depan umum begitu, saya merasa direndahkan,” sahutnya lagi.

“Lalu aku harus bagaimana?” lanjut saya.

“Abang japri (jalur pribadi) saja, jangan di grup,” balasnya.

“OK.” Jawabku.

Karena saya tidak mau memperpanjang diskusi waktu itu, saya meminta maaf padanya. Dari kasus itu saya memahami satu hal bahwa tidak semua orang menerima kritikan. Kemudian yang terpenting juga etika dalam mengkritik.

Ilustrasi | Foto dokumen pribadi

Memang dalam hati kita tidak ada niat mengkritik atas dasar kebencian, tapi kita tak tahu apa yang ada dalam hati orang-orang yang kita berikan masukan itu. Saya ingat kata bijak Ali bin Abi Thalib ra, “Jangan mengkritik orang bodoh, karena ia akan membencimu, tapi kritiklah orang berilmu, maka ia akan mencintaimu”.

Lebih kurang begitu substansi dari kata bijak tersebut, bahwa bagi seorang yang pandai, kritikan itu adalah cerminan untuk dia memperbaiki diri. Sedangkan bagi orang bodoh, mereka merasa merendahkan dia. Kepada Allah kita mohon ampun, semoga kita dijadikan orang-orang yang tidak antikritik dan terus memperbaiki diri.

Akhirnya saya mempraktikkan kembali apa yang saya jelaskan di awal tulisan ini bahwa tulislah apa yang ada dalam pikiran kita, bukan berpikir yang akan kita tulis. Yang saya tulis di atas, itulah yang ada dalam pikiran saya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *