Strategi Komunikasi Dinkes dalam Menyosialisasikan Cara Hidup Sehat

Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama manusia melalui pertukaran informasi untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Menurut Harold Lasswell ada lima elemen dasar dalam berkomunikasi yaitu “Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect”. Kelima elemen dasar tersebut adalah Who(sumber atau komunikator), Says What (pesan), in Which Channel (Saluran), to Whom (Penerima), with What Effect (Efek atau dampak).

Lima elemen dasar dari komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Laswell di atas akan bisa membantu para komunikator dalam menjalankan tugas mulianya.
Dalam melakukan berbagai macam bentuk komunikasi, yang sering digunakan oleh para komunikasi adalah komunikasi persuasif. Bentuk komunikasi ini tidak hanya dilaksanakan secara personal, melainkan lembaga-lebaga atau kelompok-kelompok tertentu yang punya kepentingan memengaruhi komunikan.

Menurut K. Andeerson, komunikasi persuasif didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan. Sedangkan menurut R. Bostrom bahwa komunikasi persuasif adalah perilaku komunikasi yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima.

Dinas kesehatan dalam hal ini Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai intitusi pemerintah memiliki kepentingan dalam menyosialisasikan program-progam kesehatan. Instansi semacam ini sangat membutuhkan strategi komunikasi terutama dalam menyosialisasikan cara hidup sehat kepada masyarakat.

Dengan demikian tujuan utama mereka dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat tercapai. Maka mereka membutuhkan beberapa cara dan model komunikasi yang perlu diterapkan agar pesan yang mereka sampaikan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat dalam menjalani hidup sehat.

Dalam tulisan singkat ini sebagai tugas mata kuliah “Strategi Komunikasi” penulis mengambil data dan melakukan wawancara dengan pihak Puskesmas, dalam hal ini penulis mengambil Puskesmas Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh. Setelah mewawancarai pejabat yang berwenang di instansi tersebut, selanjutnya penulis menganalisis data dan hasil wawancara tersebut. Di akhir tulisan penulis akan memberikan saran dan kritik yang membangun kepada pihak Puskesmas, strategi seperti apa yang seharusnya dilakukan petugas kepada masyarakat.

Pembahasan
Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Dengan demikian puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat serta pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Berfoto bersama Kabid Promkes Puskesmas Kopelma Darussalam, Agustina.

Secara geografis, Puskesmas Kopelma terletak di Dusun Sederhana Desa Kopelma Darussalam Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh, yang mempunyai jarak ± 8 km dari pusat kota.
Wilayah kerja Puskesmas Kopelma Darussalam seluas 7.376 Ha, yang meliputi 5 (lima) desa dan 23 (dua puluh tiga) dusun, dengan jumlah penduduk 21.971 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 3007 Kepala Keluarga.
Dan jumlah peserta yang menggunakan kartu JAMKESMAS sebanyak 2979 jiwa. Desa dalam wilayah kerja Puskesmas Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh terdiri atas: Desa Kopelma, Desa Rukoh, Desa Lamgugob, Desa Ie Masien Kaye Adang, dan Desa Deah Raya.

Menurut hasil wawancara dengan Kepala Bidang Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Kopelma Darussalam, Agustina, Puskesmas Kopelma memiliki dua program dalam memotivasikan masyarakat agar hidup sehat, yaitu di luar gedung (out door) dan dalam gedung (in door). Untuk dalam gedung seperti pelayanan pasien yang berobat ke Puskesmas. Sedangkan yang di luar gedung petugas melayani masyarakat di Posyandu. Selain itu juga ada didatangi ke rumah-rumah warga yang tidak sakit untuk pencegahan.

Pihak Puskesmas juga mempunyai program pembinaan Gampong Sehat yang sekarang dikenal dengan Desa Siaga. Untuk mempromosikan kesehatan pihaknya juga memiliki program Garakan Hidup Sehat (Germas) yaitu mengajak masyarakat agar terbiasa dengan pola-pola hidup sehat. Germas ini sebelumnya disebut Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Germas ini dilakukan di luar gedung yaitu bagi keluarga agar masyarakat tahu pentingnya menjaga kesehatan. Ada lima sasaran dari Germas ini yaitu: Rumah tangga, sekolah, instansi (perkantoran wilayah kerja), tempat umum, dan sarana kesehatan seperti klinik atau rumah-rumah sakit swasta. Semua mereka datangi, karena semua harus terbiasa hidup bersih.

Untuk materi yang mereka sampaikan secara umum ada 12 indikator, namun setiap PHBS memiliki indikator masing-masing, misalnya untuk rumah tangga harus makan sayur dan buah, sedangkan untuk sosialisasi di tempat umum pihaknya mengajak masayarakat agar tidak membuang sampah sembarangan dan lain-lain, supaya mereka benar-benar menerapkan hidup sehat di manapun mereka berada.

Selain itu, sosialisasi kesehatan melalui penyuluhan, Puskesmas Kopelma juga menyampaikan informasi dengan cara menempel informasi di tempat-tempat tertentu seperti di lingkungan Puskesmas dan di tempat di mana mereka buat penyuluhan, serta membagikan brosur-brosur.

Pihak Puskesmas juga sedang mempersiapkan akreditasi. Untuk meningkatkan akreditasi ini pihaknya membuat program baru yaitu Ronda Pagi. Program ini melibatkan lintas sektor seperti Kodim, Polsek, pegawai kantor camat, dan beberapa stake holder lainnya ikut terlibat di dalamnya.

Metodenya, mereka akan turun ke desa-desa setiap hari Minggu untuk mengimbau masyarakat agar bergotong royong untuk mengurangi angka penderita DBD. Permasalahan penyakit yang banyak dialami warga saat ini hipertensi dan darah manis. Hal itu disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat dan kurang berolah raga. Seharusnya masyarakat harus banyak makan sayur dan buah. Dan bagi masyarakat seharusnya memeriksa kesehatan secara rutin, walaupun tidak sedang sakit.

Sudah pernah menyurvei mengapa anak tidak makan sayur dan buah, ternyata bukan malas memakannya, tapi tidak disediakan oleh orang tua mereka. Maka kita imbau agar orang tua menyediakannya, walaupun buah-buahan harganya dijangkua semua kalangan.

Analisis dan Saran
Para ahli komunikasi cenderung sama-sama berpendapat bahwa dalam melancarkan komunikasi lebih baik mempergunakan pendekatan apa yang disebut A-A Procedure atau from Attention to Action Procedure. A-A Procedure ini sebenarnya penyederhanaan dari suatu proses yang disingkat AIDDA. Teori AIDDA ini merupakan akronim dari Attention (Perhatian), Interest (Minat), Disire (Hasrat/Keinginan), Decision (Keputusan), dan Action (Tindakan). Konsep AIDDA menjelaskan suatu proses psikologis yang terjadi pada diri khalayak (komunikasi) dalam menerima pesan komunikasi.

Menutur analisis penulis, strategi komunikasi yang dilakukan pihak Puskesmas jika merujuk dengan konsep strategi AIDDA dalam menyosialisasikan cara hidup sehat masih bersifat persuasif dan sangat tradisional. Dengan kondisi masyarakat perkotaan yang serba sibuk dan bahkan saat jam kantor tidak berada di rumah, menurut penulis sudah kurang begitu efektif. Psikologi masyarakat saat ini tidak betah duduk berjam-jam hanya untuk mendengar pidato, mereka lebih asyik dengan media sosial di gadget atau smartphone mereka masing-masing.

Selain itu, pihak Puskesmas masih belum memiliki kemampauan dalam hidup sehat melalui media yang lebih luas seperti radio atau media massa cetak serta online. Oleh karena itu saran penulis, selain melakukan sosialisasi melalui penyuluhan, Pihak Puskesma juga melakukannya melalui media sosial. Sebab perkembangan hari ini hampir semua kalangan dan usia menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan beberapa media sosial lainnya.

Terakhir menurut penulis pihak Puskesmas juga lebih giat lagi menyosialisasikan nomor call center Puskesmas jika masyarakat butuh bantuan medis yang emergensi seperti ambulan yang siap menjemput langsung ke rumah warga.
Penulis yakin, dengan begitu, kesadaran masyarakat untuk berobat dan menjaga kesehatan akan lebih meningkat karena pelayan yang diberikan adalah Excellent Service.[]

Thanks for dropping by

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *